Aditya, Eks Persib U-17 Mengenang Peristiwa Nahas Yang Membuat Kakinya Harus Diamputasi

Aditya, Eks Persib U-17 Mengenang Peristiwa Nahas Yang Membuat Kakinya Harus Diamputasi Aditya dalam acara Podkesan Republik Bobotoh.

REPUBLIKBOBOTOH - Bercita-cita menjadi pemain sepak bola, Aditya kecil mulai aktif bermain bola pada usia 7 tahun.

Bukan bersama sekolah sepak bola atau akademi, Aditya hanya mengikuti kejuaraan antar RT, kelurahan, dan turnamen lain di sekitar kediamannya.


Memasuki kelas 3 sekolah menengah pertama, hasrat Aditya untuk menjadi pemain sepak bola profesiol semakin menjadi. Segala daya dan upaya ia lakukan hingga akhirnya ia masuk dan menimba ilmu di Sekolah sepak bola Saint Prima.

Yuk gabung channel whatsapp REPUBLIKBOBOTOH.COM untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Persib, Bobotoh, Liga 1, dan ragam berita menarik lainnya seputar Bandung Raya. Klik di sini (JOIN)


Kesempatan Aditya untuk menyalurkan hobi sekaligus mewujudkan mimpinya semakin hari semakin membuahkan hasil. Perlahan tetapi pasti, Aditya mulai mengikuti seleksi untuk kejuaran ke tingkat yang lebih tinggi bahkan nasional

"Kelas 3 SMP masuk SSB, setelah itu ikut seleksi Haornas, waktu usia 15 tahun," kata Aditya dalam PODKESAN REPUBLIK BOBOTOH.

Karir Aditya melesat, ia bergabung dengan tim Suratin saat usianya menginjak 16 tahun. Disana, Aditya mengenal beberapa rekan yang kemudian didaulat menjadi pemain Persib senior seperti Agung Mulyadi dan Achmad Baasith.

Tahun 2015, saat kompetisi sepak bola tanah air dihentikan dan PSSI dibekukan, mimpi Aditya bersama sepak bolanya mulai tersendat. Namun keinginannya untuk terus berkarir di dunia olahraga tersebut tidak pernah surut.

Aditya mencari cara untuk menyalurkan hobinya itu dengan mengikuti turnamen sepak bola mahasiwa. Kebetulan Aditya tercatat sebagai mahasiwa di salah satu perguruan tinggi di kota Bandung.

Tak kenal lelah, Aditya memperkuat tim kampusnya dalam berbagai kejuaraan, bahkan hingga bermain di pulau Jawa.

Tak disangka, kegiatan Adit tersebut menjadi awal malapetaka yang membuat kaki kanannya diamputasi. Kepada REPUBLIK BOBOTOH, Adit menceritakan awal mula kejadian hingga akhirnya peristiwa nahas itu terjadi.

"Waktu itu main di persiapan kampus cup. Baru 11 menit main ada peluang cetak gol. Niatnya bola mau ditendang setengah lapang, di lob, tapi malu takut gak masuk," ungkap Adit bercerita.

Jika tahu kejadiannya akan berakhir tragis, Adit saat itu akan menendang bolanya saja dan tidak akan melewati penjaga gawang lawan. Namun tidak pernah ada yang bisa menebak tentang apa yang terjadi di depan.

Alhasil, Adit memutuskan untuk berhadapan dengan penjaga gawang. Malangnya, Adit terlibat benturan, kaki penjaga gawang lawan menerjang kaki kanannya. "Akhirnya patah tulang," kata Aditya.

Adit membantah ada faktor kesengajaan yang dilakukan penjaga gawang saat duel tersebut. "Itu refleks," tegasnya.

Adit mendapat pertolongan pertama akibat luka dalam dan patah tulang yang dialaminya. Adit dilarikan ke ahli patah tulang dan selanjutnya harus kontrol satu hingga dua minggu sekali.

"Disana dibenerin, tapi si bapaknya sempat bilang gak sanggup. Adit harus kontrol seminggu dua minggu kesini dan tidak dirawat," kata Adit menjelaskan.

Adit sempat menemukan kejanggalan saat ia melakukan kontrol dan dipersilahkan untuk belajar jalan. "Saya mikir, tulang belum kuat kenapa disuruh jalan. Itu sampai keluar keringat," kenang Aditya.

Setelah kontrol saat itu, kata Adit, di rumah ia merasakan hal yang tidak enak. Benar saja, darah keluar dari pori-pori kakinya, pembulu darah Adit pecah. Menurutnya itu disebabkan dari gesekan antar tulang.

"Setelah itu di bawa ke (rumah sakit) Halmahera," ungkap Adit.

Adit harus segera mendapat tindakan operasi. Bahkan menurut dokter, operasi harus dilakukan dua kali: operasi kulit dan tulang.

Dalam PODKESAN REPUBLIK BOBOTOH Aditya juga menceritakan kondisi orang tuanya saat pihak rumah sakit memintanya untuk dioperasi.

"Adit waktu itu dirawat, bapak mencari uang, tapi belum dapat aja uangnya. Akhirnya kita komunikasinya dengan dokter sampai ada pihak keluarga yang mengusulkan untuk dibawa ke Cimande," papar Aditya.

Keluarga memutuskan untuk membawa Adit ke pengobatan alternatif di tempat yang diusulkan tersebut. Adit menjelaskan bahwa kondisi kakinya saat itu sudah merah, matang!.

Bahkan tempat pengobatan alternatif kedua yang didatangi Adit sempat mengatakan, "Ini mudah-mudah bisa diselamatkan," ujar Adit menirukan.

"Saya dirawat disitu dan kondisi kaki sudah mati rasa," ujarnya.

Karena adanya kesalahan dan telat dalam penanganan awal, kondisi Adit tak kunjung membaik. Saat dirawat kondisi kaki Adit bertambah parah, "Dagingnya lepas dari tulang," kata Adit.

Disana Adit dirawat kurang lebih satu tahun untuk pemulihan. Adit mengatakan, seharusnya ia naik meja operasi sebelum akhirnya saraf pada kakinya mati. (Kris Andieka)

Saksikan cerita lengkapnya hanya di PODKESAN REPUBLIK BOBOTOH yang tayang Sore hari ini

Follow Berita Republik Bobotoh di Google News

Editor: Helmi M Permana

Piksi

Berita Terkini