REPUBLIKBOBOTOH.COM - Shahril Ishak, bercerita tentang perjalanan karirnya ketika membela Persib Bandung pada musim 2011 silam. Kedatangannya ke Bandung tak lepas dari peran Daniel Darko Janackovic, pelatih Persib waktu itu.

Seperti di Indonesia, eks kapten Tim Nasional Singapura ini sekarang sedang menjalani masa libur kompetisi akibat pandemi Covid-19. Kegiatannya selama beberapa bulan terakhir yaitu berlatih mandiri untuk menjaga kebugaran tubuhnya.

"Sekarang lagi kompetisi Liga Singapura lagi stop karena Covid-19 jadi liganya harus berhenti seketika. Tunggu pemerintah menyetujui untuk mulai lagi, saya sekarang cuman latihan saja," kata pemain yang identik dengan nomor punggung 17 itu.

Lanjut cerita, Shahril masih ingat betul bagaimana dia bisa berlabuh di tim kebanggaan Bobotoh. Padahal waktu itu dia masih berstatus sebagai pemain Home United di Singapura.

"Waktu itu saya masih di Liga Singapura, membela Home United. Tapi liganya belum habis, masih ada tiga pertandingan sisa. Waktu itu sedang top perform, saya cetak gol semuanya. Jadi tim saya lagi nomer dua dan nomer satu itu Tampines Rovers, jadi kita ada sisa 3 game,"

"Lalu Darko telepon saya, dia sudah lihat permainan saya. Sebulan dia sudah bicara dengan saya, kamu cocok dengan permainan tim Persib, dia menginginkan saya bergabung. Dia minta saya cepat datang (ke Bandung)," tuturnya.

Shahril tak punya waktu untuk berpikir dua kali tentang tawaran kontrak dari Persib. Pilihannya saat itu, terbang dengan penerbangan pertama dari Singapura ke Bandung karena di waktu bersamaan manajemen klub sedang menggelar acara Launching Tim Persib 2011.

"Jadi saya serba selah waktu itu dengan Home United. Masih ada tiga pertandingan sisa, tapi saya harus pergi. Home United bilang, kamu tunggu saja tiga pertandingan lagi, selesai liga kamu bisa pergi ke Persib.

"Saya tidak mungkin (tampil di tiga pertandingan sisa) karena Persib harus memulai liga, saya harus melakukan pramusim dengan mereka. Saya akhirnya bicara sama semua di tim, Home United akhirnya mengizinkan," lanjut cerita Shahril.

Tanpa banyak pertimbangan, Shahril terbang ke Bandung untuk mendatangani kontrak satu musimnya di Persib, "Jadi waktu saya ke Bandung, sudah sign kontrak semua, sama Pa Umuh. Saya ke Siliwangi (launching tim),".

Di tengah perjalanan, skenario yang sudah direncanakan harus berhenti di tengah jalan. Hasil pramusim Daniel Darko Janackovic kurang memuaskan, pelatih asal Serbia itu dipecat sebelum kompetisi dimulai.

"Seminggu kemudian Darko dipecat. Dia diganti, parah ini, kata saya. Bagaimana masa depan (bermain) saya di sini. Karena dia (Darko) menjanjikan saya menit bermain di tim inti untuk karir saya di Timnas Singapura. Karena kalau saya tidak ada di tim inti, saya tidak akan bisa kembali ke Timnas Singapura," akunya.

Shahril mengaku mentalnya sempat down ketika manajemen klub mengakhiri kerjasama dengan Darko. Padahal dia ingin menunjukan kemampuannya di Persib.

"Saya sudah 100 persen, mental saya sudah di Persib. Saya ingin latihan bersungguh-sungguh. Saat Darko dipecat, mental saya down sedikit. Sebab ketika pelatih diganti, filosofi (bermain) dari pelatih akan berbeda.

"Setiap pelatih itu berbeda, sebab permainan saya pun berbeda, Darko sudah tahu saya biasa bermain di posisi mana, dia tahu harus menempatkan saya di mana.

"Pelatih diganti oleh asistennya, Jovo (Jovo Cuckovic). Dia tidak bisa bicara bahasa (Indonesia dan Inggris), pemain semua pusing tidak mengerti saat latihan. Dia terus memberi materi latihan passing. Dia terus berbicara Serbia, anak-anak tidak paham, saya juga tidak paham apa mau dia," tutur Shahril.

https://www.youtube.com/watch?v=dBRqPVIBEAI