REPUBLIKBOBOTOH - Jalan terjal harus dihadapi Firman Utina saat ingin berlatih sepakbola ketika masih kecil.

Tak seperti siswa SSB lainnya, pria asal kelahiran 15 Desember 1981 itu harus piawai mencuri waktu untuk berlatih sepakbola di salah satu SSB di Manado.

Di program Podkesan Republik Bobotoh, Firman Utina membeberkan awal mulanya berkarir di sepakbola dari usia sangat muda.

Latarbelakang keluarga yang terbilang berada di golongan bawah, menjadi penyebab orang tua selalu melibatkan Firman dalam setiap pekerjaannya.

Bahkan tak jarang, Firman kecil diminta untuk bekerja sebagai kuli agar meringankan pekerjaan sang Ayah.

Sang Ayah juga tak berharap Firman menjadi seorang pesepakbola, justru menjadi Polisi dan Petinju menjadi harapan dari orang tua.

Ia juga kerap mendapatkan perlakuan kasar ketika sang Ayah tahu Firman kabur dari pekerjaan untuk berlatih sepakbola.

Manado memang identik dengan para petinju, yang paling diingat ialah Adrianus Taroreh.

Firman mengatakan bahwa sang Ayah selalu mengikutsertakannya dalam ajang tinju kelas pasar. Bahkan ia juga sempat naik ring dan berlaga di beberapa pertandingan.

"Bapak saya tukang bangunan, ibu saya pedagang kue, tapi gak nyambung kan anaknya jadi pesepakbola. Saya gak percaya apa yang orang bilang anak yang jadi pesepakbola harus dari anak pesepakbola,"

"Awalnya orang tua saya itu pingin jadi Polisi, kalau olahraga jadi petinju saja. Pernah naik ring kelas pasar pernah saya alamin, tapi saya gak cinta disitu, umur 11 tahun tepatnya," ujar Firman di program Podkesan REPUBLIKBOBOTOH TV yang akan tayang pada Sabtu 6 Februari 2021 di YouTube dan platform digital lainnya.

"Saya ke pasar pernah naik ring tinju di pasar, andrianus tarore yang sekarang lurah di kamoung dan saya ikut tapi saya gak ikut. Waktu saya disuruh tinju ya saya kabur, pernah sekali pukul ya saya kalah," tambah FU.

Meski sudah naik ring dan berlaga, isi hati Firman Utina berkata lain. Ia pun kerap mencuri waktu untuk berlatih sepakbola setelah membantu pekerjaan orang tua.

"Akhirnya bertentangan dengan itu akhirnua saya sembunyi-sembunyi dari orang tua, saya jam 8 pagi bantu bapak kerja bangunan di umur 11, karena buat makan sehari-hari kan, anak laki laki jadi bantu bapak. Jam setengah 3 saya kabur latihan. Tapi orang tua tau saya main bola bukan latihan," ujar eks pemain Arema itu.

"Saya pulang dicambuk, dipukul dengan alasan gak solat padahal kita solat, padahal mungkin dia butuh bantuan ketika kerja dia tapi saya pasrah karena dia gak tahu. Mau pamit pun gak dapat izin," bebernya.

Kendati demikian, Firman banyak belajar dari orangtuanya. Dengan begitu ia semakin ingin membuktikan bahwa sepakbola bisa mengubah nasib keluarganya.

"Saya bersyukur dengan orang tua seperti itu, saya semakin terpacu untuk membuktikan. Dengan begitu sepakbola itu dapat membahagiakan orang tua dan menafkahi orang tua," tuntasnya.

Masih banyak lagi yang diceritakan Firman Utina di program podkesan REPUBLIKBOBOTOH yang akan tayang pada Sabtu 6 Februari 2021. (Raffy Faraz Ramadhan)

Video

https://www.youtube.com/watch?v=lPF5QVSLHD0&t=3s