RBCOM - Bagi masyarakat Bandung dan Jawa Barat, Persib bukan sekadar klub sepak bola. Di balik pertandingan, trofi, dan rivalitas, terdapat cerita panjang yang membentuk identitas kolektif ribuan bahkan jutaan Bobotoh selama puluhan tahun.

Fenomena itulah yang kini dihadirkan dalam sebuah pameran seni bertajuk Kultura Persib yang digelar di Grey Art Gallery, Jalan Braga Nomor 47, Kota Bandung.

Pameran yang berlangsung mulai 9 Juni hingga 10 September 2026 tersebut menghadirkan berbagai karya visual yang merekam hubungan emosional antara Persib dan masyarakat.

Kurator Grey Art Gallery, Angga Aditya Atmadilaga, mengatakan gagasan pameran ini muncul dari banyaknya seniman yang menjadikan Persib sebagai sumber inspirasi dalam berkarya.

“Persib menjadi denyut nadi yang memberikan banyak inspirasi dalam karya-karya mereka. Namun selama ini belum ada ruang yang secara khusus mewadahi ekspresi visual tentang Persib. Dari situ muncul inisiatif untuk menghadirkan pameran ini di Grey Art Gallery,” ujar Angga, dikutip dri siaran pers Humas Kota Bandung, Kamis, 4 Juni 2026.

Merayakan Budaya yang Tumbuh Bersama Persib

Menurut Angga, istilah Kultura Persib dipilih karena pameran ini tidak hanya berbicara mengenai sepak bola, tetapi juga tentang budaya yang lahir dan berkembang bersama perjalanan klub kebanggaan warga Jawa Barat tersebut.

Pameran ini menghadirkan berbagai sudut pandang yang berasal dari para seniman, fotografer, pengarsip sejarah, hingga masyarakat umum yang memiliki pengalaman personal dengan Persib.

“Kontributornya tidak hanya seniman. Ada masyarakat umum yang tumbuh bersama Persib, memiliki kenangan, memori, dan pengalaman personal. Semua itu menjadi bagian dari budaya visual yang kami tampilkan,” katanya.

Untuk menghimpun karya, penyelenggara membuka kesempatan bagi publik melalui program open call. Sejumlah kolektor arsip, fotografer, sejarawan, dan pegiat seni yang memiliki dokumentasi tentang Persib juga turut dilibatkan.

Hadirkan 95 Karya dari 70 Kontributor

Antusiasme yang tinggi membuat pameran ini berhasil mengumpulkan 95 objek dari 70 kontributor.

Berbagai bentuk karya ditampilkan, mulai dari lukisan, mural, instalasi seni, dokumentasi fotografi, arsip sejarah, hingga koleksi buku yang berkaitan dengan perjalanan Persib dari masa ke masa.

Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah rangkaian patung karya seniman Iwong yang dibuat sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah Persib.

Empat sosok yang diabadikan dalam karya tersebut adalah Indra Thohir, H. Umuh Muchtar, Jajang Nurjaman, dan Bojan Hodak.

Kisah Bobotoh Jadi Daya Tarik Utama

Pameran Kultura Persib dibagi ke dalam lima area utama yang masing-masing menghadirkan pengalaman berbeda bagi pengunjung, mulai dari ruang teater, stone chamber, wood chamber, galeri utama hingga area pameran di lantai dua.

Bagian depan galeri menampilkan perjalanan sejarah Persib dalam bentuk infografis, sementara area lainnya dipenuhi karya-karya yang menggambarkan pengalaman emosional para Bobotoh dari berbagai generasi.

Bagi Angga, justru karya-karya yang lahir dari pengalaman pribadi suporter menjadi bagian paling menarik dalam pameran ini.

“Karya-karya seperti itu terasa sangat otentik. Ada juga mural yang menggambarkan bagaimana pada era 1990-an orang-orang rela memanjat pohon demi bisa menyaksikan pertandingan Persib. Itu pengalaman personal, tetapi dirasakan secara kolektif oleh banyak orang,” ungkapnya.

Cerita-cerita seperti itu memperlihatkan bahwa Persib telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, diwariskan dari generasi ke generasi, dan membentuk ikatan emosional yang melampaui sepak bola itu sendiri.

Ruang untuk Menyaksikan Identitas Kota Bandung

Melalui pameran ini, Grey Art Gallery ingin mengajak masyarakat melihat Persib dari perspektif yang lebih luas.

Tidak hanya sebagai klub yang bertanding setiap pekan, tetapi juga sebagai simbol budaya yang melekat dalam identitas Kota Bandung.

Pengunjung dapat menikmati pameran dengan tiket masuk Rp25.000 pada hari kerja dan Rp35.000 saat akhir pekan.

Seluruh pengunjung diperbolehkan mengambil foto untuk dokumentasi pribadi. Namun, penyelenggara mengimbau agar tidak menyentuh arsip, koleksi jersey, maupun karya seni yang dipamerkan guna menjaga kondisi dan keaslian koleksi yang ditampilkan.*****