RAGAM RB - Upaya menekan angka stunting di Kota Bandung dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan berbagai sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga perbaikan lingkungan.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung, Deni Nursani, S.Pd.I., menegaskan bahwa pemenuhan gizi anak saja belum cukup untuk mengatasi persoalan tersebut.

Hal itu disampaikan Deni saat menghadiri kegiatan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten/Kota dengan Prevalensi Tinggi yang berlangsung di Aula Dinas Kesehatan Kota Bandung, Selasa, 13 Oktober 2026. Kegiatan tersebut juga dihadiri Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung, Angelica Justicia Majid.

Dalam kesempatan itu, Deni menekankan perlunya sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, institusi pendidikan, dan masyarakat agar program pencegahan stunting dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Menurutnya, persoalan stunting berkaitan dengan sejumlah faktor yang saling memengaruhi. Selain asupan nutrisi, kesiapan orang tua, kondisi kesehatan ibu, tingkat pendidikan, serta sanitasi tempat tinggal turut menentukan kualitas tumbuh kembang anak.

Ia menilai upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini, bahkan sebelum pasangan memasuki kehidupan berkeluarga. Edukasi bagi remaja dan calon pengantin perlu diperkuat agar mereka memiliki pemahaman mengenai kesiapan fisik, mental, serta kesehatan reproduksi.

Deni juga mengingatkan risiko kesehatan yang dapat muncul ketika calon ibu mengalami anemia atau kekurangan darah. Karena itu, pemeriksaan dan pemeliharaan kesehatan sebelum kehamilan menjadi bagian penting dalam langkah pencegahan stunting.

“Pencegahan stunting harus dimulai dari hulu. Kita perlu memperhatikan kesiapan remaja, calon pengantin, hingga kondisi kesehatan ibu sebelum kehamilan,” ujarnya.

Selain persoalan kesehatan, Deni menggarisbawahi pentingnya pendidikan dalam membangun generasi yang sehat. Menurutnya, remaja yang tidak melanjutkan sekolah berpotensi menghadapi keterbatasan akses pekerjaan dan pendapatan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan anak.

Kondisi ekonomi tersebut dapat berdampak terhadap pemenuhan gizi, pola pengasuhan, dan perkembangan anak. Oleh sebab itu, sekolah dinilai memiliki peran strategis dalam memberikan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, kesiapan membangun keluarga, serta pentingnya menunda pernikahan hingga siap secara fisik dan mental.

Deni turut mengingatkan bahwa lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat bisa menghambat upaya pemenuhan gizi anak. Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian ialah ketersediaan air bersih dan sistem sanitasi yang layak bagi keluarga.

Ia menjelaskan, sumber air yang berdekatan dengan septic tank atau sumber pencemaran lain berisiko mengalami kontaminasi bakteri. Jika kondisi tersebut tidak ditangani, kesehatan anak dapat terancam meskipun kebutuhan makanannya telah diupayakan dengan baik.

“Pemenuhan asupan makanan harus dibarengi dengan sanitasi yang baik. Rumah, ketersediaan jamban yang layak, dan sumber air bersih juga harus menjadi perhatian dalam upaya pencegahan stunting,” katanya.

Karena itu, perbaikan akses air bersih, pembangunan jamban yang layak, dan peningkatan kualitas sanitasi perlu berjalan beriringan dengan program pemenuhan gizi. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak secara optimal.

Deni mengapresiasi berbagai program yang telah dijalankan untuk mencegah dan mempercepat penurunan stunting. Meski demikian, ia menilai hasil yang maksimal hanya dapat dicapai apabila seluruh pemangku kepentingan mengambil peran sesuai bidang masing-masing.

Koordinasi antarorganisasi perangkat daerah (OPD) perlu diperkuat dengan melibatkan sektor kesehatan, pendidikan, akademisi, serta masyarakat. Di tingkat keluarga, perhatian terhadap kesehatan ibu dan anak serta kebersihan lingkungan juga harus menjadi kebiasaan yang dijalankan secara konsisten.

Ia berharap strategi lintas sektor tersebut tidak hanya membantu menekan prevalensi stunting, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.

Menurut Deni, keberhasilan pencegahan stunting membutuhkan komitmen bersama yang dimulai dari keluarga, didukung lingkungan sehat, serta diperkuat melalui kebijakan pemerintah dan kerja sama berbagai pihak.

"Dengan kolaborasi yang terarah dan berkelanjutan, upaya percepatan penurunan stunting diharapkan dapat berjalan lebih efektif serta memberikan dampak nyata bagi kesehatan dan kualitas hidup generasi mendatang," katanya.***