RAGAM RBCOM - Pemeriksaan kesehatan secara berkala perlu menjadi kebiasaan perempuan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kanker payudara dan kanker serviks.

Kedua penyakit tersebut bisa berkembang tanpa gejala yang mudah dikenali pada fase awal, sehingga deteksi dini menjadi langkah penting untuk mempercepat diagnosis dan menentukan penanganan yang sesuai.

Pesan tersebut disampaikan Anggota DPRD Kota Bandung sekaligus Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik, Dr. dr. Agung Firmansyah Sumantri, SpPD, KHOM, MMRS, FINASIM.

Ia mengingatkan perempuan agar tidak menjadikan munculnya keluhan sebagai satu-satunya alasan untuk mendatangi fasilitas kesehatan.

Menurut Agung, menemukan kanker sedini mungkin dapat memperbesar peluang keberhasilan pengobatan. Meski demikian, hasil penanganan tetap dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk jenis kanker dan tingkat perkembangan penyakit ketika terdiagnosis.

“Jangan menunggu sakit untuk memeriksakan diri. Kanker tidak selalu menimbulkan gejala pada tahap awal. Karena itu, pemeriksaan sejak dini sangat penting agar penyakit dapat diketahui lebih cepat dan pasien memperoleh penanganan yang sesuai,” ujar Agung.

Ia menjelaskan, kondisi tubuh yang terasa sehat belum tentu cukup untuk memastikan seseorang terbebas dari risiko penyakit. Tidak adanya rasa nyeri maupun keluhan tertentu juga tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan pemeriksaan yang dianjurkan.

Karena itu, perempuan perlu meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan pribadi, mengenali kondisi tubuh, dan segera berkonsultasi apabila menemukan perubahan yang tidak biasa.

SADARI Bantu Kenali Perubahan pada Payudara

Salah satu upaya meningkatkan kewaspadaan terhadap kanker payudara adalah melakukan pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI. Langkah ini dapat membantu perempuan mengenali perubahan yang perlu mendapat perhatian medis.

Beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain benjolan baru pada payudara, perubahan bentuk atau ukuran, kulit yang tampak tertarik, puting yang masuk ke dalam, serta keluarnya cairan berdarah dari puting.

Agung mengingatkan, temuan yang mencurigakan tidak selalu berarti kanker. Namun, perubahan tersebut tetap perlu diperiksa oleh tenaga kesehatan agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani secara tepat.

“Tidak semua benjolan berarti kanker. Namun, setiap perubahan yang mencurigakan perlu diperiksakan kepada tenaga kesehatan agar dapat dinilai dan ditindaklanjuti dengan tepat,” tuturnya.

Ia menegaskan, SADARI bukan pengganti pemeriksaan medis dan tidak dapat menjamin seseorang terbebas dari kanker. Pemeriksaan mandiri lebih berfungsi membantu mengenali perubahan pada tubuh sehingga seseorang dapat mengambil langkah berikutnya ketika menemukan tanda yang tidak biasa.

Adapun pemeriksaan klinis dan mamografi dapat menjadi pilihan sesuai usia, kondisi kesehatan, serta faktor risiko masing-masing perempuan. Konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan jenis pemeriksaan yang tepat.

Skrining Kanker Serviks dan Vaksin HPV Jangan Diabaikan

Perhatian terhadap kanker serviks atau kanker leher rahim juga perlu ditingkatkan. Agung mendorong perempuan memanfaatkan layanan skrining yang tersedia, termasuk pemeriksaan HPV DNA maupun metode lain sesuai rekomendasi tenaga kesehatan dan program yang berlaku.

Selain skrining, vaksinasi HPV berperan penting dalam mengurangi risiko kanker serviks. Kedua upaya tersebut menjadi bagian dari langkah perlindungan kesehatan perempuan yang perlu dilakukan sesuai anjuran medis.

Agung menekankan, pemeriksaan untuk mendeteksi risiko penyakit tidak seharusnya baru dilakukan setelah muncul keluhan. Sebaliknya, apabila tanda mencurigakan sudah dirasakan, pemeriksaan perlu segera dilakukan tanpa menunda-nunda.

Usia muda dan tidak adanya riwayat kanker dalam keluarga bukan alasan untuk mengabaikan perubahan yang terjadi pada tubuh.

“Jangan menunggu muncul keluhan. Ketika ada perubahan yang tidak biasa, segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan. Jangan pula merasa aman hanya karena masih muda atau tidak mempunyai riwayat kanker dalam keluarga,” tegasnya.

Puskesmas Bisa Menjadi Langkah Awal Deteksi Dini

Bagi perempuan di Kota Bandung yang ingin mengetahui langkah pemeriksaan, Agung menyarankan agar memanfaatkan puskesmas terdekat sebagai tempat awal berkonsultasi.

Menurutnya, puskesmas tidak hanya berfungsi memberikan pengobatan ketika seseorang sakit. Fasilitas kesehatan tingkat pertama tersebut juga berperan dalam memberikan edukasi, membantu mengenali faktor risiko, melakukan pemeriksaan awal sesuai layanan yang tersedia, serta memberikan informasi mengenai program deteksi dini.

Perempuan yang mengalami perubahan pada payudara, ingin mengetahui layanan skrining kanker serviks, atau membutuhkan informasi mengenai vaksinasi HPV dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan di puskesmas.

Dari hasil konsultasi tersebut, tenaga kesehatan dapat membantu menentukan pemeriksaan yang diperlukan, termasuk memberikan rujukan apabila membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut.

Agung memahami bahwa rasa malu, ketakutan terhadap hasil pemeriksaan, dan kekhawatiran mengenai biaya masih dapat menjadi penghambat bagi sebagian perempuan. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu diatasi melalui edukasi dan kemudahan akses pelayanan.

“Jangan merasa malu dan jangan takut untuk memeriksakan diri. Langkah pertama bisa dimulai dengan datang ke puskesmas dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai pemeriksaan yang dibutuhkan,” katanya.

Ia mengajak masyarakat mencari informasi mengenai layanan yang tersedia sebelum mengambil keputusan. Dengan demikian, kekhawatiran bahwa pemeriksaan kanker selalu mahal atau rumit tidak serta-merta membuat seseorang mengurungkan niat untuk memeriksakan kesehatan.

Deteksi Dini Harus Diikuti Pelayanan yang Memadai

Agung menilai peningkatan kesadaran masyarakat perlu disertai kesiapan fasilitas kesehatan dalam memberikan pelayanan yang berkelanjutan.

Ajakan untuk melakukan pemeriksaan harus dibarengi akses yang mudah, informasi prosedur yang jelas, serta tindak lanjut bagi pasien yang memperoleh hasil pemeriksaan mencurigakan.

Menurutnya, upaya deteksi dini tidak boleh berhenti setelah pemeriksaan awal selesai. Masyarakat juga perlu mendapatkan penjelasan mengenai hasil pemeriksaan dan langkah medis berikutnya apabila ditemukan indikasi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

“Program kesehatan tidak cukup hanya mengajak masyarakat melakukan pemeriksaan. Kita juga harus memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan dan tindak lanjut yang baik setelah pemeriksaan dilakukan,” ungkapnya.

Selain peran pemerintah dan tenaga kesehatan, dukungan keluarga serta lingkungan sekitar juga dibutuhkan untuk membangun kebiasaan hidup sehat di kalangan perempuan.

Agung menyoroti kecenderungan sebagian perempuan yang lebih mengutamakan kebutuhan keluarga, mulai dari mengurus anak, pasangan, dan orang tua hingga menyelesaikan pekerjaan. Di tengah berbagai tanggung jawab tersebut, pemeriksaan kesehatan pribadi terkadang justru terabaikan.

Padahal, menjaga kesehatan diri merupakan bagian penting agar perempuan tetap dapat menjalankan aktivitas dan berkontribusi dalam keluarga maupun masyarakat.

Ubah Kebiasaan, Jangan Tunggu Sakit

Agung berharap perempuan di Kota Bandung mulai membangun pola pikir bahwa pemeriksaan kesehatan merupakan bagian dari upaya menjaga diri, bukan hanya tindakan ketika penyakit sudah menimbulkan keluhan.

Ia mengajak masyarakat lebih mengenali kondisi tubuh, memperhatikan perubahan yang tidak biasa, mengikuti skrining sesuai anjuran tenaga kesehatan, serta memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia.

Agung juga mengingatkan bahwa tidak semua kanker dapat dicegah dan pemeriksaan mandiri tidak mampu mendeteksi seluruh kasus. Namun, pencegahan, skrining yang tepat, dan pemeriksaan medis ketika muncul tanda mencurigakan dapat membantu mengurangi risiko serta mempercepat diagnosis.

“Jangan tunggu sakit, jangan abaikan perubahan pada tubuh, dan jangan takut untuk periksa. Deteksi dini bukan sekadar urusan kesehatan, tetapi merupakan ikhtiar untuk menyelamatkan kehidupan,” pungkasnya.***