Pergi dari Bandung, Robert Punya Alasan Mengapa Pilih Terbang Ke Bali

Pergi dari Bandung, Robert Punya Alasan Mengapa Pilih Terbang Ke Bali

REPUBLIKBOBOTOH - Pelatih Persib, Robert Alberts memilih pergi ke Bali untuk mengisi waktu liburnya. Ada banyak manfaat yang dirasakan oleh pelatih asal Belanda saat berlibur ke Pulau Dewata.

Penundaan kompetisi karena Covid-19 sangat berdampak bagi persiapan tim Persib. Robert mengatakan berlibur menjadi cara yang ampuh untuk mengobati timnya selama penundaan kompetisi.


"Itu karena saya butuh pergi keluar dari Bandung setelah keinginan kami untuk berkompetisi lagi ditolak. Semua pemain juga sudah meninggalkan (Bandung) dan tidak ada latihan," ujar Robert kepada awak media pada Rabu (18/11/2020).

Yuk gabung channel whatsapp REPUBLIKBOBOTOH.COM untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Persib, Bobotoh, Liga 1, dan ragam berita menarik lainnya seputar Bandung Raya. Klik di sini (JOIN)


Dengan berlibur, Robert meyakini timnya akan kembali bangkit saat berkumpul dan menatap kompetisi musim ini pada awal tahun depan.

"Jadi kami membangkitkan diri sendiri, membangun rencana baru lagi, mempersiapkan kami untuk memulai di Februari dan dalam waktu dekat pemain akan diberi program latihan spesifik,"

"Tapi itu hanya jika kami tahu kapan kompetisi akan dimulai lagi. Kami tidak bisa melakukan latihan serius lagi dengan tidak ada target atau akan ada pembatalan lagi. Jadi untuk saat ini kami mundur dulu untuk membangkitkan mental maupun fisik tentunya," tambah eks pelatih Tanjong Pagar tersebut.

Sebenarnya, Robert masih optimis apabila PSSI terus berupaya dalam menggulirkan kompetisi di masa pandemi. Terlebih dengan kembalinya kompetisi, akan memberi dampak besar bagi para pegiat sepakbola.

Mendapat penurunan gaji dari nilai kontrak, tentu akan menyulitkan bagi para pesepakbola. Tentu miris rasanya saat Robert mengetahui ada banyak pesepakbola yang beralih profesi.

Kondisi tersebut bukan menjadi hal positif untuk para pesepakbola yang seakan-akan menjadi korban akibat ditundanya kompetisi.

"Kami hidup dengan gaji 25 persen dan tidak banyak orang yang bisa bertahan. Kalian bisa lihat ada cerita pemain menjadi penjaga bank, membuka usaha atau ada juga yang sudah menjual barang-barangnya. Jadi terlihat kami seolah menjadi korban meskipun tidak bersalah. Tidak banyak yang bisa dilakukan karena covid," imbuh pelatih berusia 65 tahun tersebut.

Lebih lanjut, Robert mengatakan kompetisi masih sangat memungkinkan digelar apabila tanpa dihadiri penonton. Seperti di Eropa yang tetap menggulirkan Europa Nation League di masa pandemi.

"Kami sebenarnya bisa bermain di stadion yang kosong seperti yang dilakukan di seluruh dunia. Bisa dilihat Nations League sudah digelar dan nyaris setiap laga hasilnya tidak terprediksi,"

"Jadi kami harus bersiap, ketika ada lampu hijau, kompetisi akan mulai kembali dan kami harus serius lagi. Sebelumnya kami sudah bekerja dan berlatih secara profesional tapi semuanya batal," tuntasnya. (Raffy Faraz Ramadhan)

https://www.youtube.com/watch?v=fq_U4SZ7hTI

Follow Berita Republik Bobotoh di Google News

Editor: Helmi M Permana

Piksi

Berita Terkini