Kasus Influenza A di Bandung Jadi Sorotan, DPRD Minta Pemkot Perkuat Surveilans dan Buka Data

Kasus Influenza A di Bandung Jadi Sorotan, DPRD Minta Pemkot Perkuat Surveilans dan Buka Data Anggota DPRD Kota Bandung dari Fraksi PKS, Drg. Susi Sulastri. (RBCOM)

RAGAM RB - Meningkatnya perhatian terhadap kasus Influenza A di Kota Bandung mendorong perlunya langkah antisipasi yang lebih menyeluruh. Pemerintah diminta memperkuat pemantauan penyebaran penyakit sekaligus memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat agar tidak terjebak dalam kepanikan.

Anggota DPRD Kota Bandung dari Fraksi PKS, Drg. Susi Sulastri, menilai penguatan sistem surveilans dan keterbukaan data menjadi hal penting untuk menentukan kebijakan penanganan yang tepat.

Menurut Susi, perkembangan kasus Influenza A perlu dipantau secara cermat, termasuk melihat aktivitas pelayanan kesehatan dan peningkatan kunjungan pasien ke instalasi gawat darurat (IGD).

“Peningkatan beberapa kasus Influenza A di Kota Bandung harus menjadi perhatian serius seluruh pihak. Tetapi masyarakat juga perlu mendapatkan informasi yang akurat agar kewaspadaan tidak berubah menjadi kepanikan,” ujar Susi.

Ia menilai pemantauan melalui surveilans sentinel perlu diperkuat dengan pengumpulan informasi yang lebih luas. Sebab, data dari titik pemantauan tertentu belum tentu mewakili kondisi penyebaran penyakit di seluruh wilayah Kota Bandung.

Yuk gabung channel whatsapp REPUBLIKBOBOTOH.COM untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Persib, Bobotoh, Liga 1, dan ragam berita menarik lainnya seputar Bandung Raya. Klik di sini (JOIN)


“Surveilans harus diperkuat dan data harus dibuka secara transparan. Jangan sampai pemerintah hanya melihat dari satu titik sentinel, sementara perkembangan kasus di wilayah lain tidak tergambarkan,” katanya.

Bagi Susi, ketersediaan data yang menyeluruh merupakan fondasi penting dalam menentukan langkah penanganan. Dengan informasi yang memadai, pemerintah dapat menilai apakah situasi masih bisa dikendalikan melalui edukasi dan pencegahan atau memerlukan intervensi yang lebih luas.

Puskesmas Diminta Jadi Benteng Pertama Pelayanan

Selain pengawasan kasus, Susi menyoroti pentingnya memperkuat fasilitas kesehatan tingkat pertama. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak selalu menjadikan IGD rumah sakit sebagai tujuan awal ketika mengalami gejala influenza.

Puskesmas, klinik, dan dokter praktik mandiri perlu memiliki kesiapan yang memadai untuk memberikan pemeriksaan serta penanganan awal kepada masyarakat.

“Puskesmas harus menjadi garda terdepan. Tidak semua masyarakat yang mengalami gejala influenza harus langsung datang ke IGD rumah sakit,” ujarnya.

Menurut Susi, kesiapan fasilitas kesehatan tingkat pertama harus mencakup ketersediaan tenaga medis, obat-obatan, peralatan pemeriksaan, sistem rujukan, serta penyampaian informasi kesehatan kepada masyarakat.

Penguatan tersebut dinilai penting agar pelayanan rumah sakit tetap berjalan optimal dan tidak terbebani oleh lonjakan kunjungan pasien yang sebenarnya dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

“Jangan sampai peningkatan kasus influenza justru membuat rumah sakit kewalahan. Pelayanan di tingkat pertama harus mampu menjadi benteng awal,” kata Susi.

Sekolah Perlu Antisipasi Risiko Penularan

Lingkungan pendidikan juga menjadi perhatian dalam upaya mencegah penyebaran Influenza A. Aktivitas siswa yang berlangsung bersama dalam ruang kelas membuat langkah pencegahan perlu dilakukan secara konsisten.

Susi menyebut Dinas Pendidikan Kota Bandung telah melakukan mitigasi dengan memberikan arahan kepada sekolah untuk menangani siswa yang mengalami gejala flu serta berkoordinasi dengan Puskesmas.

Apabila terjadi peningkatan kasus yang signifikan di sekolah tertentu, pembelajaran jarak jauh (PJJ) dapat dipertimbangkan sebagai salah satu langkah antisipasi.

Meski demikian, ia menekankan bahwa keputusan tersebut harus didasarkan pada kondisi nyata dan tingkat risiko penularan, bukan sekadar kekhawatiran yang belum didukung data.

“PJJ bisa menjadi opsi jika terjadi peningkatan kasus yang signifikan di sekolah tertentu. Tetapi pendekatannya harus terukur dan berbasis risiko, bukan membuat seluruh sekolah panik atau menghentikan pembelajaran tanpa dasar epidemiologis yang jelas,” tuturnya.

Warga Diminta Tetap Waspada dan Menjaga Kesehatan

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap Influenza A, Susi menilai penyampaian informasi publik harus menjadi bagian penting dari strategi pemerintah. Informasi mengenai perkembangan kasus perlu disampaikan secara terbuka, lengkap, dan mudah dipahami agar masyarakat tidak bergantung pada kabar yang sumbernya tidak jelas.

Ia mengimbau warga yang mengalami gejala flu untuk menggunakan masker dan mendatangi fasilitas kesehatan tingkat pertama guna memperoleh pemeriksaan serta pengobatan yang sesuai.

“Kalau ada gejala flu, pakailah masker. Kemudian datang ke klinik, Puskesmas atau dokter praktik mandiri untuk mendapatkan pengobatan. Istirahat yang cukup dan jangan dulu berkegiatan di luar rumah agar cepat sembuh dan tidak menularkan kepada orang lain,” katanya.

Susi juga mengingatkan masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti rutin mencuci tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker saat mengalami gejala pernapasan, menghindari kontak dekat ketika sakit, serta beristirahat di rumah apabila kondisi tubuh tidak memungkinkan untuk beraktivitas.

“Kita tidak perlu panik, tetapi juga tidak boleh abai,” tegasnya.

Pengalaman pandemi COVID-19, lanjut Susi, seharusnya menjadi pengingat bahwa kesiapan sistem kesehatan perlu dibangun secara berkelanjutan. Pemerintah tidak seharusnya menunggu situasi membesar untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan penyakit.

“Kesiapsiagaan harus dibangun setiap saat. Sistem kesehatan yang kuat bukan hanya dibutuhkan ketika terjadi wabah besar,” ujarnya.

Ke depan, Susi mendorong kebijakan kesehatan Kota Bandung agar semakin berorientasi pada pencegahan, penguatan surveilans, peningkatan kapasitas Puskesmas, perlindungan kelompok rentan, serta keterbukaan informasi kepada masyarakat.

“Ukuran keberhasilan kebijakan kesehatan bukan hanya berapa banyak pasien yang berhasil ditangani, tetapi juga seberapa baik pemerintah mencegah masyarakat jatuh sakit,” ujar Susi.***

Follow Berita Republik Bobotoh di Google News

Penulis: Tim Republik Bobotoh | Editor: Daddy

Memuat Terkini...