REPUBLIK BOBOTOH - Tak dipungkiri, sepak bola adalah bagian dari profesionalisme yang menjadi jalan bagi seorang pesepak bola mendapatkan uang, prestasi dan juga prestise.

Tetapi semua itu ada masanya dan sang aktor sepak bola pada titik tertentu mesti menghadapi sesuatu yang suka atau tidak suka akan teralami, di mana yang bersangkutan tak lagi bisa mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan harapannya.

Semua itu bisa terjadi dikarenakan cedera, usia yang sudah menua, pelatih dan klub tak membutuhkannya lagi karena tak sesuai skema yang diinginkan atau menurunnya kemampuan/performa yang bersangkutan karena kalah oleh rekannya dalam sebuah klub.


Baca Juga: Luizinho Passos Bicara Peluang untuk Turunkan Sheva Sanggasi

Pada akhirnya hal ini akan teralami juga oleh seorang pesepakbola walau karirnya pernah cemerlang di klub atau timnas sekalipun.

Tak sedikit pesepak bola yang sebenarnya masih potensial terpaksa harus menerima kenyataan pahit dan bahkan ada yang gantung sepatu termasuk beralih profesi karena cedera atau sakit yang berkepanjangan.

Tentu saja hal ini miris sekali bagi kita yang menyaksikannya. Memang tak ada jaminan yang pasti di akhir episode seorang pesepakbola apabila sudah berakhir masa kejayaannya.


Baca Juga: Ini Alasan Persib Datangkan Made Agus Astika

Bagaimana seorang Kurnia Meiga yang masih muda karena penyakit yang diderita ia harus lebih awal mundur dari dunia sepak bola yang telah membesarkan namanya dan kini hidupnya memperihatinkan. Mungkin bisa jadi banyak pesepakbola yang mengalami kenyataan seperti ini pula.

Masih beruntung bagi para pesepak bola yang terpinggirkan dari klub di negeri ini karena tidak sesuai keinginan pelatih macam Jonathan Bauman, Bruno Cantanhede atau pesepakbola lainnya yang setelah tidak terpakai, mereka masih bisa bermain di Liga di negara di luar Indonesia.

Setidaknya mereka masih mampu menunjukkan kualitas di negara lain sehingga masih bisa melanjutkan karier sepak bolanya.


Baca Juga: Persib Lepas Pemain yang Sempat Menyandang Status Wonderkid Ini?

Juga yang menarik dan mesti dicermati di negeri ini pun saat ini fenomena tersebut teralami oleh para pesepak bola yang main di Liga 1.

Nama-nama seperti Boaz Sollosa, Hariono, Ismed Sofyan, Yongki Ariwibowo, Ezechiel Ndouasel dan terakhir adalah Ferdinand Sinaga menunjukkan karena kalah bersaing dia rela bermain di Liga 2.

Selain mereka butuh cuan juga yang pasti mereka masih ingin menunjukkan kapasitasnya sebagai pesepak bola yang masih diperhitungkan dan jika beruntung dan ada kesempatan mereka bisa kembali bermain di Liga 1, khususnya yang masih potensial.

Bahkan tak menutup kemungkinan karena kalah bersaing di dalam sebuah klub pesepak bola tersebut dipinjamkan ke klub lain baik dalam negeri maupun klub luar negeri.


Baca Juga: Eks Persib Bandung Nekad Turun Kasta Gegara Sering di Bench

Salah satu yang bisa menjadi contoh peminjaman Levy Madinda dari Johor Darul Ta’zim yang menunjukkan salah satu peminjaman terbaik karena yang bersangkutan mampu menunjukkan kemampuan yang baik saat bermain di Persib hingga bisa dilirik oleh klub lain yang meminatinya.

Atau Febri Haryadi, karena kemampuan olah bolanya menurun dan tak sesuai skema yang diinginkan maka hendak dipinjamkan ke klub Liga Indonesia I di luar Persib. Tentu saja hal ini tak bisa disangkal dan akan dialami pesepakbola bersangkutan.

Tentu tak ada pilihan lain, bagi mereka yang memang sudah sulit menjadi pemain regular/inti dari klub yang dibelanya, kecuali pilihannya adalah dipinjamkan atau berganti klub agar memiliki kesempatan bermain yang lebih besar jika kariernya tak ingin segera berakhir.

Kenyataan ini sudah banyak terjadi dan menjadi bukti jika masa kejayaan seorang pesepak bola ada batas akhirnya. Boleh jadi hal ini sesuatu yang tak diharapkan tetapi jika sudah terjadi realitanya mesti menerima kenyataan daripada kemudian ia harus menganggur kecuali mereka yang sudah menua dan gantung sepatu dan jika beruntung jika mengikuti Kursus Kepelatihan maka setidaknya ia akan menjadi pelatih sepak bola.

Barangkali hal ini sudah lumrah dan terjadi dalam dunia sepak bola. Tetapi bagi pesepak bola hal ini merupakan pertanda jika yang bersangkutan memang ada penurunan performa. Tak perlu putus asa sesungguhnya, kalau menurun performa kecuali cedera, sakit dan menua. Selama masih memang mampu kembali meningkatkan performa, tinggal mengatrolnya sedemikian rupa.

Tetapi memang alamiah hal itu akan terjadi dan dialami oleh siapapun. Hanya yang bermental tangguh yang akan bertahan dalam pusaran persaingan. Tentu saja hal ini adalah tantangan yang harus dijawab oleh pesepak bola yang ada dengan prestasi yang masih memungkinkan dilakukannya.

Sebagai catatan akhir, tentu saja dalam karier sepak bola sipapun ingin mendapatkan karier yang cemerlang dan berakhir dengan manis, mungkin macam I Made Wirawan yang telah me jadi asisten pelatih atau Achmad Jufriyanto yang dipersiapkan untuk menjadi asisten pelatih.

Semoga saja, siapapun pesepak bolanya pada intinya tidak mengalami sesuatu yang menyakitkan namun mampu bertahan menjadi sepak bola handal serta mampu bersaing mendapatkan yang terbaik dalam karier sepak bolanya.**

Deffy Ruspiyandy

Penulis adalah Bobotoh nu sok lalajo jeung gogorowokan harepeun TV lamun PERSIB maen.

Rubrik GOROWOK BOBOTOH memuat tulisan artikel opini dari pembaca, Redaksi REPUBLIKBOBOTOH.COM tidak bertanggungjawab atas isi tulisan yang sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.

ATTENTION: Bagi Bobotoh yang suka menulis bisa mengirimkan tulisan ke email republikbobotoh@gmail.com, tulisan akan dimuat di kolom GOROWOK BOBOTOH.