RBCOM - Pertemuan antara Persija Jakarta dan Persib Bandung yang berakhir dengan skor 1-2 untuk kemenangan Maung Bandung kembali menyisakan cerita panas di luar lapangan.

Usai duel kedua tim di Stadion Segiri, Samarinda pada 3 Mei 2026, satu kalimat langsung mendominasi percakapan publik: “Kalah jadi cacing, menang jadi naga.”

Ungkapan tersebut dengan cepat menyebar di media sosial dan menjadi simbol terbaru dari panasnya rivalitas antara The Jakmania dan Bobotoh.

“Kalah jadi cacing, menang jadi naga.” bukan sekadar kalimat spontan, tetapi mencerminkan tekanan emosional yang selama ini melekat dalam setiap pertemuan kedua tim.

Secara makna, frasa ini sebenarnya berasal dari peribahasa lama dalam bahasa Indonesia yang menggambarkan perubahan sikap seseorang saat menghadapi kemenangan dan kekalahan.

Namun dalam konteks sepak bola, makna tersebut berkembang menjadi sindiran tajam yang menyerang mental lawan.

Penggunaan istilah “naga” dan “cacing” memiliki simbolisme kuat. Naga identik dengan kekuatan, kejayaan, dan dominasi, representasi kondisi saat tim berada di atas.

Sebaliknya, cacing menggambarkan posisi lemah, tertekan, dan mudah diremehkan ketika tim mengalami kekalahan.

Sindiran ini bukan hal baru. Sejak sekitar 2018–2019, kalimat tersebut sudah mulai digunakan di media sosial sebagai alat provokasi antar pendukung. Namun, momentum pertandingan terbaru membuatnya kembali viral dan semakin masif digunakan.

Ada beberapa faktor yang membuat ungkapan ini kembali mencuat. Status Persib sebagai juara bertahan membuat simbol “naga” terasa semakin relevan bagi pendukungnya. Di sisi lain, performa Persija yang belum stabil di papan atas kerap dijadikan bahan ejekan oleh rival.

Peran media sosial juga tidak bisa diabaikan. Platform seperti X, TikTok, dan Instagram menjadi ruang utama penyebaran meme “cacing vs naga” yang memperkeruh suasana, bahkan setelah pertandingan berakhir.

Dampaknya terasa langsung, baik di stadion maupun di luar lapangan. Atmosfer pertandingan menjadi lebih panas dengan yel-yel yang semakin provokatif. Risiko gesekan antar suporter pun meningkat jika sindiran ini tidak dikendalikan.

Tak hanya suporter, pemain juga merasakan tekanan. Beban mental bertambah karena hasil pertandingan bisa langsung berujung pada ejekan yang menyebar luas. Dalam situasi tertentu, hal ini bahkan dapat memengaruhi performa di lapangan.

Meski begitu, rivalitas tetap seharusnya berada dalam batas wajar. Sepak bola pada dasarnya adalah hiburan, dan persaingan tidak harus berujung pada konflik. Sindiran seperti “Kalah jadi cacing, menang jadi naga” bisa menjadi bagian dari dinamika, selama tidak memicu kebencian berlebihan.

Menariknya, rivalitas Persija dan Persib sendiri telah lama dikenal sebagai salah satu yang terpanas di Asia Tenggara.

Sejak era 1990-an, kedua tim sudah memiliki identitas kuat lewat julukan “Macan Kemayoran” dan “Maung Bandung”, dengan berbagai bentuk ejekan yang terus berkembang hingga era digital saat ini.****