Campus League Badminton Regional Bandung diikuti 23 kampus. Turnamen menghadirkan format 3v3, sistem 15 poin, dan persaingan student-athlete.. (Ist)
RAGAM RBCOM - Campus League (CL) Badminton Regional Bandung menghadirkan persaingan yang cukup semarak dengan melibatkan 23 perguruan tinggi. Peserta tidak hanya berasal dari Bandung dan Cimahi, tetapi juga datang dari Jakarta, Bogor, hingga Depok.
Jumlah tersebut membuat penyelenggaraan di Bandung memiliki peserta lebih banyak dibandingkan edisi sebelumnya di Semarang yang diikuti 17 perguruan tinggi.
Para student-athlete kemudian bersaing dalam enam nomor pada kategori individu, yaitu tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, ganda campuran, dan 3v3.
Head of Competition Campus League, Dave Leopold, mengapresiasi tingginya partisipasi pada Regional Bandung. Menurutnya, sambutan tersebut menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap kompetisi badminton mahasiswa.
"Bandung memang selalu menjadi barometer, termasuk dalam penyelenggaraan Campus League Badminton Regional Bandung ini. Kenapa begitu, karena banyak mahasiswa Bandung yang setelah lulus memilih mengajar atau melatih pemain diluar negeri," ungkapnya.
Selain persaingan antarmahasiswa, Campus League Badminton juga mencoba menghadirkan pendekatan berbeda dalam kompetisi. Salah satunya melalui nomor 3v3 yang diadaptasi dari pola latihan atlet profesional.
Ada Format 3v3
Dave menjelaskan, nomor tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghadirkan variasi pertandingan. Format 3v3 juga menjadi ruang bagi student-athlete yang masih membangun kepercayaan diri untuk tetap merasakan atmosfer kompetisi.
"Tujuan dipilihnya format 3v3 yaitu untuk mendorong para student-athlete yang belum percaya diri atas kemampuan mereka, tapi ingin tetap bertanding dan Ganda Campuran," ujar Dave .
Selain format 3v3, sistem perolehan angka juga menjadi pembeda. Pertandingan menggunakan batas 15 poin. Dave menyebut penggunaan sistem tersebut telah memperoleh persetujuan dari Persatuan Bulutangkis Indonesia (PBSI) untuk kepentingan sosialisasi.
Penerapan sistem tersebut dinilai memberikan karakter berbeda pada jalannya pertandingan. Durasi laga menjadi lebih singkat sehingga pemain dituntut untuk lebih cepat beradaptasi dengan situasi pertandingan.
"Yang saya lihat, secara pertandingan jadi lebih cepat, seru, dan menarik. Kami telah bertanya ke sejumlah student-athlete. Mereka mengaku lebih suka poin 15 sebagai pemanasan untuk menjadi atlet profesional," imbuhnya.
Setelah kategori individu yang berlangsung pada 15 dan 16 September rampung, turnamen berlanjut ke kategori beregu pada 17 dan 18 September.
Pada kategori beregu, perhatian juga tertuju pada sistem 55 poin kumulatif yang diterapkan dalam kompetisi. Format tersebut membuat komposisi pemain dan strategi pelatih menjadi bagian penting dalam menentukan hasil akhir pertandingan.
“Ini lebih menarik karena menang di set pertama dan kedua, tidak menjamin sebuah tim bisa unggul sampai akhir. Itu tergantung strategi pelatih dalam menempatkan pemain penentu. Kami juga ingin para pemain, perangkat pertandingan, dan yang terlibat turnamen ini lebih familier. Makin terbiasa tentu akan makin baik,” tegasnya.
STKIP Pasundan Juara 3v3
Sementara itu, salah satu gelar juara telah diraih STKIP Pasundan Cimahi melalui nomor 3v3. Agnia Sri Rahayu, Rangga Arda Rheta, dan Deandra Ikhsan Gunawan menjadi trio yang membawa tim tersebut keluar sebagai pemenang.
Pada partai penentuan, mereka mengalahkan trio Universitas Gunadarma yang diperkuat Alya Zafira, Muhammad Irsya Mubarok, dan Ardha Tanu Widarma. STKIP Pasundan Cimahi menang dua gim langsung dengan skor 15-10 dan 15-5.
Rangga mengungkapkan bahwa bermain dalam format tiga pemain menghadirkan tantangan tersendiri. Perbedaan pemikiran antarpemain membuat komunikasi menjadi aspek yang harus terus dijaga selama pertandingan.
"Dari pertandingan 3vs3 ini kendalanya adalah komunikasi. Menyatakan tiga kepala itu tidak mudah, makanya kita berpikir harus ada yang bisa memimpin. Dan pilihannya jatuh kepada Agnia," sebutnya.
Agnia juga mengakui pentingnya membaca permainan lawan sejak awal pertandingan. Menurutnya, tim harus mengetahui titik lemah lawan sekaligus menutup kekurangan masing-masing.
“Di babak awal, kami membaca peta kekuatan lawan. Kami mengincar yang lemah, pastinya. Sementara kami bertiga harus lebih pintar menutupi kelemahan satu sama lain,” ucapnya.
Rangga menilai kekuatan Universitas Gunadarma cukup menyulitkan. Namun, ia menyebut karakter permainan timnya menjadi salah satu faktor yang mampu memberikan keuntungan.
“Kami melihat Tim Gunadarma kuat. Cuma ada teknik permainan kami yang mereka mungkin kurang suka. Misalnya, main satu-satu atau individual,” ulas Rangga. Senada dengan Rangga, Deandra.
Maria Menangi Tunggal Putri
Pada sektor tunggal putri, Maria Veronica Ngadien Prawesti dari Universitas Padjadjaran berhasil mengatasi Alya Zahira dari Universitas Gunadarma.
Pertandingan berlangsung ketat, terutama pada gim kedua. Alya beberapa kali mampu menyamakan kedudukan, mulai 2-2, 4-4, hingga 6-6. Setelah itu, perolehan angka kembali berlangsung tipis dengan skor 9-10, 10-11, dan 12-13.
Maria akhirnya mampu mempertahankan keunggulannya. Seusai pertandingan, unggulan kedua tersebut mengakui bahwa gim kedua menjadi bagian paling menegangkan.
“Babak kedua lebih struggling karena serangan saya banyak mati sendiri. Tegang juga sehingga kejar-kejaran skor dengan Alya Zafira terasa lebih ketat,” akunya.
Bagi Maria, Campus League juga memberikan ruang bagi student-athlete untuk menunjukkan kemampuan mereka di hadapan peserta dari berbagai daerah.
“Bagus, Campus League Badminton bisa menjadi wadah bagi student-athlete di berbagai kota di Indonesia untuk menunjukkan bakat mereka,” cetusnya.
Sektor tunggal putra juga melahirkan juara melalui Nopriansyah Adi Gunawan dari Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Bekasi.
Langkah Nopriansyah menuju final dimulai dengan kemenangan atas unggulan empat Triyugo Frediqke Sunandar Hidayat dari Universitas Trisakti Jakarta pada semifinal. Ia menang dengan skor 15-12 dan 15-9.
Di final, Nopriansyah kembali meraih kemenangan. Unggulan tiga Muhammad Bagus Suyarto dari Universitas Budi Luhur Jakarta ditundukkannya dengan skor 15-12 dan 16-14.
Daftar Juara Lengkap
Pada ganda putra, Fajar Putra Setiawan/Ridho Ma’sum Firdaus dari Universitas Komputer Indonesia berhasil mengalahkan Gilang Pramunantio/Miftah Ilman Khatami dari Universitas Trisakti Jakarta. Laga berakhir 15-10 dan 17-15 untuk kemenangan Fajar/Ridho.
Gelar ganda putri menjadi milik Alya Ardelia/Shofi Aprilia Argyanti dari Universitas Budi Luhur Jakarta. Mereka mengalahkan Shafa Alya Ramadhani/Aura Zalfa Syafiya dengan skor 15-13 dan 15-10.
Sementara itu, sektor ganda campuran dimenangi Muhammad Halim As Sidiq/Citra Murdiningrum Surono dari Universitas Negeri Jakarta. Mereka menundukkan Khaddhaffy Allrhenandhy/Alya Ardelia dari Universitas Budi Luhur Jakarta dengan skor 15-13 dan 15-10.
Campus League Badminton Regional Bandung kemudian memasuki kategori beregu pada 17 dan 18 September dengan membawa format pertandingan serta sistem skor yang berbeda dari kategori individu.***