REPUBLIK BOBOTOH - Sebanyak 17 orang anak jadi korban meninggal dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan setelah pertandingan Arema FC versus Persebaya Surabaya.

Berdasarkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) diketahui sebanyak 17 orang anak korban meninggal, rata-rata berusia antara 12-17 tahun.

"Iya, ini bersama Dinas PPPA Provinsi dan Kota Malang sedang melacak data anak-anak yang menjadi korban," kata Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian PPPA, Nahar, dikutip dari Kompas.com, Minggu .

Baca Juga : Liga 1 Ditunda Sementara, Begini Kata Komisaris PT PBB Umuh Muchtar

Menurut Nahar, hingga saat ini sedikitnya ada 17 anak yang meninggal dan tujuh anak mengalami luka-luka. "Data yang masuk, 17 anak meninggal dan tujuh dirawat, tapi kemungkinan bisa bertambah," katanya.

Anak-anak yang menjadi korban dalam tragedi ini kebanyakan berusia antara 12 tahun hingga 17 tahun.

Sementara dikutip dari laman Jawa Pos, berdasarkan Data Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, jumlah korban meninggal dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan bertambah jadi 180 orang.

"Meninggal dunia 180 orang," tutur Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, Wiyanto Wijoyo dikutip dari laman Jawa Pos, Minggu siang, 2 Oktober 2022.

Baca Juga : Liga 2 dan Pra Piala Asia U-17 Tetap Digelar Pasca Tragedi di Kanjuruhan

Dari 180 korban meninggal, 25 di antaranya belum teridentifikasi. "Sebanyak 25 jenazah masih belum teridentifiksai," jelas Wiyanto Wijoyo.

Wiyanto mengungkapkan, mayoritas korban meninggal akibat terinjak-injak karena panik saat kericuhan pecah hingga petugas menembakan gas air mata.

"(Meninggal) akibat terinjak-injak. Memang sesak napas karena terinjak-injak," ungkap Wiyanto.

Sementara itu, sebanyak 191 orang lain masih dirawat di rumah sakit. Mereka mengalami luka-luka.**