Bos Persib Dapat 'Surat Cinta' dari Viking Boys, Disebut Gagap Kultur Bobotoh

Bos Persib Dapat 'Surat Cinta' dari Viking Boys, Disebut Gagap Kultur Bobotoh Direktur PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Teddy Tjahjono. (Kris Andieka/Republik Bobotoh)

REPUBLIK BOBOTOH - Direktur PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) jadi target kritikan pedas sejumlah elemen bobotoh, khususnya di jagat maya.

Alih-alih mendapatkan simpatik dari postingannya di akun media sosial Instagram, Teddy malah mendapatkan lebih banyak respons negatif dari bobotoh yang melontarkan kritikan pedas terhadap manajamen.

Bahkan sejumlah elemen bobotoh, salah satunya Viking Boys melalui akun Instagram-nya dengan terbuka menyebut, Teddy sebagai sosok yang tak paham kultur Persib dan bobotoh.

Viking Boys lewat postingannya merasa terusik atas penyampaian Teddy terkait situasi yang terjadi saat ini, termasuk reaksi sejumlah bobotoh yang melakukan penghadangan kepada rombongan tim sepulangnya dari Cikarang, Bekasi, pada Senin malam kemarin.

Berikut postingan dari Viking Boys yang disadur Redaksi REPUBLIKBOBOTOH.COM dari akun Instagram, @vikingboys, Selasa 28 September 2021;


Yuk gabung channel whatsapp REPUBLIKBOBOTOH.COM untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Persib, Bobotoh, Liga 1, dan ragam berita menarik lainnya seputar Bandung Raya. Klik di sini (JOIN)


Terpantik oleh caption @teddy.tjahjono yang tetap tak paham kultur bobotoh (slide 2-4), di sini kami akan sedikit menjelaskan lebih jauh mengapa musim ini telah selesai. Oleh karena itu, izinkan kami membuat:

"Surat cinta teruntuk Teddy Tjahjono

1. Dukungan Positif

Pertama dan yang paling penting: dukungan positif akan mengalir begitu saja tanpa permohonan.

Jangan terlalu jauh meninjau ke musim 2006 ketika Risnandar dipaksa mundur, atau betapa masifnya bobotoh yang pergi ke Solo demi play-off agar lolos degradasi. Melihat peluangnya saja, sangat kecil Teddy mengetahui dengan baik dua kejadian tersebut.

Mari kita tinjau perilaku bobotoh ketika Teddy Tjahjono menjabat sebagai direktur. Tapi teu apal oge sih iraha jadi direkturna. ????

Ada yang masih ingat apa reaksi Bobotoh yang ada di stadion ketika Kim Jeffrey gagal meneksekusi penalti pada semifinal Piala Presiden 2017? Tuan @teddy.tjahjono sudah menjabat sebagai direktur bukan?

Alih-alih menghujat, seisi stadion malah menyemangati dengan cara meneriakkan nama Kim Jeffrey! (Slide 5)

Padahal kita tahu di musim sebelumnya, Kim Jeffrey adalah salah satu sasaran utama kritik yang lahir dari bobotoh.

Ini positif atau negatif? Apakah ada permohonan untuk mendukung Kim?

Atau pada 2018 ketika Persib disanksi tidak boleh main di Bandung. Tribun Timur si Jalak Harupat hampir penuh oleh bobotoh guna memberikan dukungan kepada Persib yang sedang berlatih.

Positif atau negatif? Ada himbauan untuk mendukung dari pemangku kebijakan?

Jadi, jika masih meminta dukungan apalagi mengkategorisasi positif dan negatif, apakah ia benar-benar paham perilaku bobotoh?

Jika paham betul, mengapa masih memohon-mohon seakan Persib minim dukungan?

Dan jika dukungan itu tidak dikategorikan positif, apakah itu sebab bukan akibat? Apakah dukungan ‘negatif’ itu bisa dicegah andai saja tim beserta pemangku kebijakan bekerja dengan baik?

2. Perihal Pemangku Kebijakan

Tagar #RobertOut mulai bertebaran. Tentu bukan hal baru. Pada 2017, coach Djanur pernah merasakan hal yang sama, padahal beliau notabene adalah pemutus 19 tahun tanpa gelar. Apalagi Robert yang belum memberikan apapun!

Jika ada yang berpendapat bahwa kesalahan utama ada di striker bukan pelatih. Pada 2017 pun begitu, van Dijk cedera dan Carlton Cole direkrut dengan tujuan utama bukan untuk bermain bola.

Pada musim ini kesalahan fatal terletak ketika @teddy.tjahjono dan Robert tidak bisa mempertahankan Ferdinand Sinaga. Terlebih Castillion telat bergabung, yang seharusnya pemangku kebijakan tahu akan ada masalah dalam kebugaran. Itu berarti tinggal menyisakan dua striker, dengan formasi dua striker. Tentu itu sangat riskan, terbukti dengan cederanya Ezra dan buntunya Luiz membuat tumpul produksi gol Persib.

Apakah @teddy.tjahjono tidak belajar pada musim 2017?

Jika tidak, tekanan sekarang ada di Teddy Tjahjono. Perihal bisnis tak dapat diragukan lagi, Persib adalah yang terbaik di sepakbola Indonesia.

Tapi Persib itu tim sepakbola, bisnis yang mengagumkan saja takkan pernah cukup. Teddy harus mawas diri, apakah ia memang benar-benar paham sepakbola? Terlebih sepakbola Bandung?

Setelah tak bisa menjaga tim pada musim 2018. Kesalahan fatal Teddy berikutnya adalah kalah di final lawan persija!

Lagi dan lagi Teddy tak paham keinginan Bobotoh karena dengan entengnya ia mengeluarkan dalih sebatas pra-musim. Bahkan Robert bilang Piala Menpora tidak bisa disebut pra-musim, karena persiapan pra-musim saja belum dimulai. Padahal mau itu pra-musim atau bukan yang menjadi masalahnya bukan itu!

3. Pada Liga 1 sejak 2017 persentase kemenangan dari total pertandingan tim yang juara selalu lebih dari 50%. (Slide 6-8)

Berikut rinciannya:

2017: 65%

2018: 53%

2019: 56%

Coba bandingkan dengan raihan 2 kemenangan dari 5 pertandingan, yang berarti persentase kemenangannya adalah 40%. Dengan persentase 40%, pada tiga musim sebelumnya rata-rata tim hanya finish di posisi 5-7.

Tentu masih ada 29 pertandingan, teramat jauh untuk lempar handuk. Tapi apakah kawan-kawan yakin akan ada perubahan?

Jawabannya ada pada mental!

4. Kritik jadi Beban?

Pecundang, losers.

Mental lemah takkan pernah cocok dengan tradisi sepakbola Bandung!

Bahwa ternyata ada yang perlu dijelaskan terkait fenomena belakangan. Rumusan terkenal Adjat Sudrajat cukup untuk menggambarkan:

Persib besar bukan karena pujian."

Kegagalan Persib mengalahkan Tira Persikabo kian membuat bobotoh merasa kecewa setelah di dua laga sebelumnya, juga meraih hasil imbang lawan Bali United dan Borneo FC.

Pada pertandingan berikutnya, Persib akan menghadapi PSM Makassar, Sabtu 2 Oktober 2021.**

Follow Berita Republik Bobotoh di Google News

Penulis: Adam Husein | Editor: M Taufik

Piksi

Berita Terkini